Pages

Saturday, August 9, 2008

When 'my fingers vs keyboard'

Entah kenapa beberapa bulan ini, tepatnya 3 bulan terakhir, saya jadi malas memposting blog. Bukan karena tidak ada ide, ataupun kesempatan online yang jarang. Oh ya, pernah karena disconnected saat posting bahan blog buat jadi tambah malas ^^; .. tapi, mungkin lebih karena terlalu banyak pertimbangan dalam menulis atau meneruskan sebuah tulisan.

Ada sekitar 10 judul dan 6 tulisan yang akhirnya tidak dipublish, karena saya pikir ‘it’s not good enough’, kurang menyentuh, kurang data informasi sehingga landasannya tidak kuat, kurang pantas untuk disebarkan di internet.. tepatnya, terlalu banyak alasan sehingga tidak jadi saya posting.

Jadi kembali berpikir untuk apa buat blog, ah, akhirnya saya ingin menumpahkan saja apa yang dipikirkan tanpa banyak mengedit dan berpikir atau men-sensornya. Mungkin itu cara supaya saya bisa lebih jujur pada diri sendiri, so, itulah tujuan saya buat blog.. hehehe untuk saya baca sendiri, kalo ada orang lain yang mau baca, silakan. Tapi minimal ada saya yang baca, saya yang terlecut, termotivasi dan teringatkan akan ilmu yang saya dapat. Hayo, lesly, sudah mengamalkan apa?

Jadi ingat Cormac mccarthy, peraih pulitzer, -suatu penghargaan bergengsi bagi penulis berbakat di amerika sana, seorang teman mengirimi saya novelnya. Saya memesannya karena ingin tahu seperti apa sih tulisan seorang penerima pulitzer, sekeren apa sih, dan semenarik apa and.. alhamdulillah, i get it for free. I was really excited. Sebelumnya dalam tayangan Oprah Show, Mr. Mccarthy ini mengatakan dalam wawancara yang sangat langka, -karena ia sangat sulit diwawancarai, ‘i don’t care about what other people think about my book, they can read it if they want to, or just throw it on a basket if they don’t’ . kutipan dari wikipedia berkata soal buku ini ;

It is a post-apocalyptic tale describing a journey taken by a father and his young son over a period of several months across a landscape blasted years before by an unnamed cataclysm that destroyed civilization and, seemingly, most life on earth. The novel was awarded the Pulitzer Prize for Fiction and the 2006 James Tait Black Memorial Prize for Fiction. McCarthy said the inspiration for The Road came during a visit to El Paso, Texas with his young son in 2003. Imagining what the city might look like in the future, he pictured "fires on the hill" and thought about his son. He took some initial notes, but did not return to the idea until several years later while in Ireland. Then the novel came to him quickly, and he dedicated it to his son, John Francis McCarthy

Such a different author, Oprah said. Dan bukunya memang menarik (pada awalnya), maaf, saya belum bisa membacanya sampai tuntas. Sastra yang sangat berbobot (kalo tidak bisa saya bilang berat n sulit dipahami.. i thought my english was good, until I read this^^;).

Buku ini berjudul ‘The Road’, menceritakan perjalanan seorang pria dengan anaknya ketika dunia sudah penuh oleh debu dan peradaban manusia hancur karena suatu bencana besar, hingga hanya tersisa puing bangunan dan sedikit manusia saja. Perjalanan mereka ke selatan diceritakan dengan sangat lambat, dan deskripsi setting perjalanan serta kilas balik yang kuat namun ‘so sorrow n lonely’.

Hm.. entah, mungkin saya belum menangkap esensi cerita dari buku ini, i’ll keep my reading then. But, satu hal yang bisa saya tangkap (hehe.. iya, baru satu hal) adalah orang-orang dalam kondisi yang sulit bisa menjadi sangat kuat, mereka menjadi lebih kuat jika ada alasan untuk berjuang, melewati satu hari lagi saja. Dalam novel ini, alasan itu adalah anak. Ya, satu-satunya ikatan emosional yang ‘menghangatkan’ dalam novel ini.

Well, in general you can say it, love. In many aspects, love has become the greatest reason to fight for. So, where is our love land to?

Hm... kalo sudah tema cinta, sudah banyak warning nih di kepala saya, khawatir menyinggung, khawatir menimbulkan konotasi negatif, maupun mengundang intrik.. tapi kan ini blog untuk saya baca sendiri ya? So, i’ll try not to bother it most. Yang jelas kalau untuk saya, saat ini benar benar ingin mendaratkan cinta pada thesis saya (lhooo... emang sebelumnya tidak??). ya, berusaha untuk menyayangi dan merawat ke-120 partner kecil putih wistar yang akan menuntunku ke kelulusan. Jadi master itu memang tidak mudah, kerasa banget. Kalo mudah tentu banyak yang jadi master ya? Itu kata teman saya menyindir.

Seorang senior saya menasihati, untuk belajar fokus, berkorban untuk apa yang menjadi prioritas, saat ini barangkali yang harus saya korbankan adalah aktivitas atau konsentrasi ke bisnis dengan rekan-rekan (hehe.. emang lesly bisnis apaan sih? www.biopharmaca.net). ( sy blm belajar buat link dari kalimat/kata, jadi copy paste aja ke addressnya ya. punten). Harus mengikhlaskan itu dihandle oleh yang lain, dan yang lain pun harus ikhlas saya fokus kesini untuk sementara. Meskipun berat, tapi ada saatnya kita harus memilih, you know, you can not have all the cake pieces. I’d be very selfish then, not fair to my self or others. So i can carry on my next dreams.

3 comments:

Anonymous said...

Lesly, btw apa hubungan isi postingnya ama judul? Wah, another waiting-to-read book nih, and another father-and-son story. Good one. Ya, selamat menabur cinta di thesis deh. Good luck.

Lesly Septikasari said...

mencoba salah satu metode menjadi kreatif: sambungkan hal-hal yang tidak nyambung :p not bad. intinya ketika sedang berat menulis, cobalah menulis apapun yang ada di kepala tanpa banyak sensor, lain waktu bisa dilihat lalu diperbaiki atau bahkan menjadi bahan tulisan baru. amiin.

Anonymous said...

Salam kenal dari Sukabumi,
blog ini bagus....
di tunggu y kunjungan dan komentar baliknya di http://eidariesky.wordpress.com
Bila tidak keberatan kami ingin bertukar link dengan anda,..
untuk bertukar link, kami tunggu konfirmasi dari anda di PUSTAKA EIDARIESKY